Dilema yang hadir justru di fase awal
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat telah dimulai. Pertandingan pembuka Grup F mempertemukan Belanda melawan Jepang di Dallas Stadium pada Senin dini hari tadi. Bagi penikmat sepak bola di seluruh dunia, laga ini adalah pertarungan menarik antara dua tim dengan kualitas seimbang. Namun bagi sebagian masyarakat Indonesia, nonton pertandingan ini terasa beda. Bukan sekadar memilih tim jagoan, melainkan sebuah dilema emosional yang mengoyak rasa kebangsaan.
Di satu sisi ada Jepang, wakil Asia kebanggaan kawasan yang telah lama menjadi tolok ukur kemajuan sepak bola di benua kita. Di sisi lain ada Belanda, negara dengan luka sejarah kolonial yang menyakitkan, tapi juga sekaligus tanah air dari puluhan pemain keturunan Indonesia yang setiap hari rela melepas status kewarganegaraan Belanda mereka demi membela Merah Putih. Jadi, kira-kira tim mana yang pantas didukung? Agar adil dalam mengambil keputusan, sebaiknya kita telisik dulu semua sudut pandang yang melatarbelakangi dilema ini.
Tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan Indonesia dan Belanda adalah salah satu relasi paling kompleks di dunia. Dari satu sisi, Belanda adalah penjajah yang mengeruk kekayaan Nusantara selama lebih dari tiga abad. Pahit getirnya masa tanam paksa dan sistem ekonomi kolonial yang eksploitatif masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa. Namun dari sisi lain, jejak Belanda juga meninggalkan banyak warisan, mulai dari sistem irigasi, tata kota, hingga bahasa dan hukum yang sampai sekarang masih terasa pengaruhnya.
Yang paling menarik untuk dibahas di sini adalah ikatan kekerabatan yang tercipta lintas generasi. Selama era kolonial, praktik pernikahan antara orang Belanda dan pribumi cukup lumrah terjadi. Para pejabat Hindia Belanda yang datang tanpa keluarga akhirnya menikahi perempuan pribumi, menciptakan generasi Indo atau peranakan yang tumbuh dalam akulturasi budaya Indis. Belanda menyebutnya tidak boleh bawa istri dan anak saat bertugas, jadi mereka mencari pasangan di tanah jajahan.
Nah, dari pernikahan campur inilah lahir ikatan darah yang bertahan hingga saat ini. Ribuan orang Belanda masa kini masih memiliki akar keluarga dari Indonesia. Di Belanda sendiri, komunitas diaspora Indonesia cukup besar dan terorganisasi. Banyak dari mereka yang masih menjalin hubungan dengan sanak saudara di tanah air, meski jarak terpisah ribuan kilometer.
Dari rahim diaspora inilah lahir pemain-pemain sepak bola kelas dunia dengan darah Indonesia. Ambil contoh Tijjani Reijnders yang kini menjadi andalan Manchester City. Ia adalah gelandang bertalenta yang masuk dalam skuad Belanda untuk Piala Dunia 2026 di bawah asuhan Ronald Koeman. Tijjani memiliki darah Ambon, Maluku dari sang ibu. Menariknya, kakak kandung Tijjani yakni Eliano Reijnders memilih jalur berbeda dan sekarang menjadi warga negara Indonesia, memperkuat Timnas Garuda dan bermain untuk Persib Bandung. Dua bersaudara, satu darah, tapi memilih kewarganegaraan berbeda dalam sepak bola. Satu membela Belanda, satu membela Indonesia. Ini pasti bikin baper para pendukung Timnas.
Tapi tidak hanya Tijjani. Masih banyak nama-nama top Eropa lain yang memiliki akar Indonesia. Virgil van Dijk (bek Liverpool) merupakan keturunan Maluku. Kevin Diks, yang sekarang memperkuat timnas Indonesia pun sebelumnya juga sempat menjadi bagian dari skuad junior Belanda. Mees Hilgers yang menjadi andalan FC Twente juga punya darah Indonesia dari ibunya yang berasal dari Manado. Semua ini menunjukkan bahwa ikatan historis dan genealogis antara Indonesia dan Belanda di dunia sepak bola sungguh sangat kuat dan tidak bisa diabaikan.
Di Maluku dan Papua sendiri, dukungan terhadap Timnas Belanda di setiap Piala Dunia sudah menjadi fenomena tahunan yang unik. Bukan karena mereka anti-Indonesia, melainkan karena ada ikatan keluarga dan rasa memiliki yang sangat kuat. Melihat pemain dengan marga Lekatompessy, Reijnders, atau Pattynama mengenakan seragam Oranye menciptakan kebanggaan tersendiri. Apalagi mengingat sejarah panjang tentara Maluku yang bertugas di ketentaraan Hindia Belanda dan akhirnya banyak yang bermigrasi ke negeri kincir angin tersebut pasca-kemerdekaan. Jadi bagi mereka, mendukung Belanda bukan berarti mengkhianati Indonesia, melainkan mendukung keluarga yang ada di perantauan.
Indonesia Melawan Arus: Ketika Pemain Belanda Jadi Pahlawan Garuda
Sekarang kita balik kacamatanya. Selama beberapa tahun terakhir, PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir secara masif melakukan naturalisasi pemain keturunan Belanda untuk memperkuat Timnas Indonesia. Dari era kepengurusan PSSI saat ini, setidaknya sudah ada 13 pemain untuk tim putra yang dinaturalisasi, ditambah beberapa pemain untuk tim putri. Bahkan, ada sekitar 15 pemain keturunan Belanda yang saat ini memperkuat Timnas Garuda.
Daftar nama yang sudah tidak asing di telinga pecinta bola Indonesia: Maarten Paes (kiper naturalisasi dengan darah Indonesia-Belanda yang bermain di MLS), Jay Idzes yang kini jadi kapten timnas, Kevin Diks yang memperkuat Copenhagen, Calvin Verdonk yang bermain di Belanda, Sandy Walsh yang sekarang bermain di Buriram United (Thailand), hingga Thom Haye yang memperkuat Persib. Jangan lupakan Mauro Zijlstra, penyerang muda berbakat berdarah Bandung yang proses naturalisasinya mendapat lampu hijau dari Presiden Prabowo Subianto. Ia lahir di Belanda dan bermain untuk FC Volendam. Kedatangan mereka semua itu bukan sekadar formalitas, melainkan pengorbanan besar.
Bayangkan. Mereka lahir dan besar di Belanda, di negara dengan sistem pendidikan sepak bola terbaik dunia. Mereka tumbuh dengan budaya Eropa. Namun saat ditawari membela Indonesia, mereka rela melepas paspor Belanda mereka dan berpindah kewarganegaraan. Mereka bersedia diterpa panas terik saat latihan di Jakarta atau dibolak-balikkan oleh jadwal penerbangan antar pulau.
Dengan banyaknya pemain keturunan Belanda yang kini bermain di Timnas Indonesia, di level psikologis kita akan merasa bahwa Belanda bukan lagi sepenuhnya musuh. Mereka adalah saudara sepak bola kita. Mereka telah melahirkan generasi pemain yang ikut menaikkan level permainan Merah Putih di kancah Asia. Dan ironisnya, di Piala Dunia 2026, para pemain keturunan Indonesia yang membela Belanda akan bertemu dengan saudara-saudara mereka yang memilih Merah Putih, meski mungkin di tempat berbeda. Ini seperti perang saudara.
Bicara soal level permainan, Timnas Indonesia sebenarnya juga sudah menunjukkan peningkatan berkat kehadiran para pemain naturalisasi ini. Meski pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia langkah Garuda terhenti di ronde keempat, namun pengalaman dan kualitas yang dibawa pemain diaspora Eropa telah memperkaya persaingan di Liga Indonesia. Klub-klub seperti Persib Bandung yang diperkuat Thom Haye, Eliano Reijnders, Dion Markx, dan Marc Klok bahkan berhasil menjadi juara grup AFC Champions League Two, meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya yang menjadi juru kunci. Jadi semangat naturalisasi ini jelas membawa angin segar, meskipun langkah ke Piala Dunia masih terhalang.
Jepang. Jiran yang Berhasil, Kebanggaan Asia
Kita tidak bisa melupakan sisi lain dari dilema ini: Jepang. Tim Samurai Biru ini merupakan salah satu duta besar sepak bola Asia. Sejak pertama kali lolos ke Piala Dunia pada 1998, mereka tak pernah absen dari turnamen paling akbar di planet ini. Sebanyak delapan kali beruntun mereka hadir, termasuk edisi 2026 kali ini. Hal ini adalah prestasi yang sangat luar biasa dan belum bisa ditandingi oleh negara Asia Tenggara mana pun, termasuk Indonesia.
Dalam kualifikasi untuk Piala Dunia Amerika 2026, Jepang tampil dominan sebagai juara Grup C, mengoleksi 23 poin dari tujuh kemenangan, dua kali imbang, dan hanya satu kali kalah. Mereka menjadi negara pertama di luar tiga tuan rumah (AS, Meksiko, Kanada) yang mengamankan tiket ke putaran final. Itu artinya keunggulan mereka sangat jauh dibanding kompetitor lainnya.
Di atas lapangan, Jepang juga dihuni oleh pemain-pemain bintang yang bermain di liga-liga top Eropa: Takefusa Kubo (Real Sociedad), Daichi Kamada (Crystal Palace), Takehiro Tomiyasu (Arsenal), Ritsu Doan (Freiburg), dan masih banyak lagi. Zion Suzuki, kiper muda andalan mereka bahkan bermain di Italia. Ini menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola Jepang sejak usia dini hingga profesional sangat matang dan layak dijadikan contoh.
Meski pada Piala Dunia 2026 mereka harus tampil tanpa tiga pilar penting: Kaoru Mitoma, Takumi Minamino, dan kapten tim Wataru Endo karena cedera, namun semangat juang mereka tetap tinggi. Apalagi di Piala Dunia sebelumnya di Qatar, Jepang berhasil mengalahkan Jerman dan Spanyol di fase grup, sebuah kejutan besar yang mengguncang dunia. Jadi mereka jelas punya mental baja.
Bagi Indonesia, keberhasilan Jepang adalah pelecut. Jika tetangga dari utara itu bisa, kenapa kita tidak? Jepang membuktikan bahwa bangsa Asia mampu bersaing dengan raksasa Eropa dan Amerika Latin. Setiap kali Samurai Biru bermain, ada rasa bangga sebagai sesama wakil Asia. Namun di saat yang sama, tentu ada rasa iri karena kita belum mampu mengikuti jejak mereka.
Konflik Batin Antara Rasa Sakit Sejarah, Kebanggaan Regional, dan Utang Budi
Mari kita akui secara jujur. Dilema ini akan melahirkan banyak konflik batin. Jika seseorang mendukung Belanda, ia mungkin akan dibilang kurang nasionalis atau bahkan dijuluki antek kolonial. Coba bayangkan, nenek moyang kita dulu dijajah selama bertahun-tahun, dan sekarang kita malah mendukung tim sepak bolanya? Namun di sisi lain, Belanda adalah negara yang melahirkan banyak pemain hebat berdarah Indonesia. Mereka adalah saudara yang terpisahkan secara geografis.
Jika kita mendukung Jepang, kita mendukung mimpi Asia. Kita ingin membuktikan bahwa dunia sepak bola tidak hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Namun secara emosional, Jepang tidak memiliki hubungan darah sedekat Belanda dengan Indonesia. Tidak ada pemain berdarah Jepang yang berbondong-bondong memperkuat Timnas Garuda. Tidak ada perasaan sebagai saudara jauh yang bangkit bersama. Jadi dukungan terhadap Jepang lebih rasional, sedangkan dukungan terhadap Belanda lebih emosional.
Pertimbangan lain muncul dari para pemain naturalisasi Indonesia. Apakah etis jika kita mendukung Belanda, sementara di kancah kualifikasi mereka adalah pesaing dan lawan yang menghalangi langkah Garuda? Apakah kita sebagai bangsa tidak berterima kasih kepada pemain-pemain keturunan yang rela meninggalkan kewarganegaraan Belanda mereka untuk tanah air yang sebenarnya tidak pernah mereka tinggali?
Coba pikir dari nurani. Saat kita melihat Thom Haye atau Eliano Reijnders berjibaku di lapangan membela Merah Putih, mereka adalah pahlawan. Saudara-saudara mereka yang membela Belanda adalah lawan. Tapi dalam hati, kita tidak bisa membenci beliau sepenuhnya. Karena ada ikatan sejarah yang membuat semuanya terasa rumit.
Mencari Jalan Tengah: Mendukung Sepak Bola Itu Sendiri
Mungkin, daripada terjebak dalam dikotomis mendukung A atau B, kita bisa mengambil sudut pandang yang lebih bijaksana. Kita bisa nonton laga Belanda vs Jepang dengan perspektif: yang terbaiklah yang menang. Sepak bola adalah olahraga universal yang bisa menjembatani perbedaan politik dan sejarah.
Untuk Indonesia, apa pun hasil pertandingan ini, yang penting adalah bahwa sepak bola terus tumbuh dan menjadi alat pemersatu. Para pemain naturalisasi yang ada sekarang adalah jembatan emas menuju prestasi yang lebih baik di masa depan. Bahwa suatu hari nanti, Timnas Garuda bisa lolos ke Piala Dunia dan mengalahkan Belanda dengan para pemain keturunannya sendiri. Itu adalah mimpi yang sedang dibangun saat ini.
Hitungan kasarnya begini. Jika Belanda menang, itu pertanda sepak bola yang berkualitas dan modern masih perlu kita tiru. Kita lihat langsung bagaimana mereka bermain dan pelajari. Jika Jepang menang, itu artinya jalan Asia untuk bangkit itu nyata dan bisa diikuti. Keduanya sama-sama memberikan pelajaran berharga bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Jadi tidak ada yang rugi.
Pada akhirnya, pertandingan Belanda vs Jepang di Grup F Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah teka-teki identitas bagi pecinta bola Indonesia. Antara mendukung saudara yang punya ikatan darah atau mendukung jiran yang menjadi role model kesuksesan. Pilihan ada di tangan masing-masing, yang pasti rasa cinta terhadap sepak bola dan harapan agar Indonesia bisa sejajar dengan mereka harus tetap menyala.
